Berita 1

 

 

 

BERITA

 
 

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50

SURVEILANS DISTRIBUSI SPESIES LALAT BUAH

DI KABUPATEN BELITUNG DAN KABUPATEN BELITUNG TIMUR

 

STASIUN KARANTINA TUMBUHAN TANJUNG PANDAN

AZMAL AZ., S.P.   dan   YULI FITRIATI, S.P.

ABSTRAK

Surveilans ini bertujuan untuk mengetahui distribusi dan diversitas spesies lalat buah di Kab. Belitung dan Kab. Belitung Timur.  Surveilans dilakukan dengan metode Survey mulai bulan Agustus 2006 - Nopember 2006.  Lalat buah ditangkap dengan menggunakan perangkap yang terbuat dari botol bekas air mineral dan di dalamnya digantungkan kapas yang telah dibasahi dengan methyl eugenol.  Lalat buah hasil tangkapan di bawa ke laboratorium Stasiun Karantina Tumbuhan Tanjung Pandan untuk diidentifikasi menggunakan kunci identifikasi elektronik Cabikey (White and Hancock 1997).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari semua lokasi penelitian diperoleh 3 (tiga) spesies lalat buah. Tiga spesies lalat buah ditemukan di semua lokasi penelitian yaitu Bactrocera umbrosus, B. carambolae dan B. dorsalis.  Selain itu, B. carambolae dan B. dorsalis juga merupakan spesies yang kelimpahannya paling tinggi hampir di semua lokasi penelitian.  Keragaman spesies lalat buah antara Kabupaten Belitung dan Kabupaten Belitung Timur sama, masing-masing ditemukan 3 (tiga) spesies lalat buah.  Hasil penelitian ini bermanfaat sebagai informasi terutama bagi karantina sebagai dasar untuk memperketat aturan mengenai keluar masuknya buah-buahan dari dan ke suatu daerah sehingga spesies-spesies yang ada di daerah tertentu terutama daerah yang mempunyai diversitas spesies tinggi tidak masuk ke daerah lain.

Kata kunci: lalat buah, distribusi spesies, diversitas spesies, kelimpahan

PENDAHULUAN

 Upaya memenuhi kebutuhan buah untuk menekan impor dan meningkatkan ekspor,  pengembangan buah di Indonesia mengalami kendala, mulai penyediaan benih bermutu, budidaya sampai penanganan panen. Salah satu kendala dalam upaya meningkatkan produksi dan mutu buah di Indonesia adalah serangan hama lalat buah. Lebih kurang 75 % dari tanaman buah dapat diserang oleh hama lalat buah (Sutrisno,1991). Dari berbagai laporan yang diterima, intensitas serangan lalat buah terus meningkat, fluktuasi maupun populasi lalat buah juga naik terus. Kebutuhan terhadap teknik pengendalian yang ramah  lingkungan sangat diharapkan, terutama yang efektif dan efisien serta mudah diperoleh  petani dalam operasionalnya di lapangan. Perbaikan terhadap teknik identifikasi yang disesuaikan dengan kunci determinasi yang terbaru, memerlukan sosialisasi, sehingga petani dapat mengetahui organisme pengganggu tumbuhan  yang telah merusak tanamannya dan banyak menimbulkan kerugian.

Secara ekonomis beberapa spesies lalat buah merupakan hama penting yang berasosiasi dengan berbagai buah-buahan dan sayuran tropika. Lalat buah dapat  menyebabkan kerusakan langsung terhadap  150 spesies tanaman buah dan sayur-sayuran baik di daerah tropis maupun daerah subtropis (Christenson & Foote 1960; Haramoto & Bess 1970; Alyoklin et al. 2000; Bateman 1972).

Lalat buah genus Bactrocera  (Diptera: Tephritidae) merupakan spesies lalat buah dari daerah tropis. Lalat buah ini sebelumnya diidentifikasi sebagai genus Dacus, kemudian diketahui merupakan kekeliruan identifikasi dari genus Bactrocera. Genus Dacus  merupakan spesies asli dari Afrika, dan biasanya berasosiasi dengan bunga dan buah dari jenis tanaman cucurbits (Cucurbitaceae) dan kulit buah tanaman kacang-kacangan (White & Elson-Harris, 1994).

Jenis  lalat buah yang menyerang buah di Indonesia adalah dari genus Bactrocera. Berbagai spesies yang termasuk dalam B. dorsalis Hendel kompleks diketahui bertanggung jawab atas kehilangan hasil dari yang ringan sampai 100%.  B papayae Drew, B. carambolae, B. cucurbitae Coquillett. dan B. umbrosus Fabricius merupakan spesies yang banyak ditemukan pada berbagai sentra produksi buah di Indonesia.

Berbagai upaya pengendalian lalat buah telah dilakukan baik secara tradisional maupun penggunaan insektisida kimia.  Untuk mencegah serangan hama lalat buah secara tradisional dilakukan dengan cara membungkus buah dengan berbagai alat pembungkus antara lain kantong plastik, kertas koran dan daun kelapa. Bahan atraktan  seperti Methyl Eugenol telah digunakan untuk melakukan iventarisasi jenis lalat buah di Indonesia (Iwashi et al, 1996; Isnadi, 1985). Di negara lain pengendalian hama lalat buah dengan menggunakan bahan atraktan, teknik pembinasaan serangga jantan dan  teknik jantan mandul sudah lazim dilakukan (Vijaysegaran & Osman, 1991; Shiga, 1991).

Salah satu teknik pengendalian yang sangat penting untuk mencegah masuknya suatu spesies lalat buah dari satu daerah ke daerah lain adalah dengan peraturan karantina yang ketat.  Hal ini telah banyak dilakukan diberbagai negara di dunia, terutama negara-negara pengimpor buah-buahan. Oleh karena itu informasi mengenai spesies-spesies lalat buah yang ada di suatu daerah perlu didapatkan secara periodik dan disosialisasikan sehingga akan diketahui perkembangan penyebaran suatu spesies sebagai landasan untuk pemberlakuan karantina. Selain itu informasi tentang jenis-jenis lalat buah yang ada di suatu daerah perlu untuk didapatkan dan disampaikan kepada petani di daerah tersebut sebagai langkah antisipasi untuk melakukan monitoring dan pengendalian pada tanaman buah maupun sayur yang diusahakan. Hal ini penting karena spesies lalat buah tertentu mempunyai preferensi terhadap jenis inang tertentu dan jenis bahan atraktan sebagai alat monitoring maupun sebagai alat untuk eradikasi. Dengan diketahuinya jenis-jenis lalat buah yang ada di suatu daerah maka tindakan monitoring maupun pengendalian yang dilakukan akan lebih efektif dan efisien.

Surveilans ini bertujuan untuk mendapatkan data tentang distribusi spesies, keragaman spesies dan kelimpahan spesies lalat buah di Belitung dan Belitung Timur.

 

BAHAN DAN METODE

            Surveilans ini dilaksanakan dengan metode survey di daerah yang dominan tanaman buah di Kecamatan Manggar Kab. Belitung Timur, Kecamatan Dendang Kab. Belitung Timur, Kecamatan Gantung Kab. Belitung Timur, Kecamatan Kelapa Kampit Kab. Belitung Timur dan Kab. Belitung. Untuk Kabupaten Belitung Timur surveilans  dipilih empat kecamatan, selanjutnya dari tiap kecamatan dipilih tujuh desa yang penentuannya didasarkan pada adanya dominasi tanaman buah di daerah tersebut. Identifikasi hama lalat buah dilakukan di laboratorium Stasiun Karantina Tumbuhan Tanjung Pandan dari bulan Agustus  2006 - Nopember  2006.

            Untuk mengetahui distribusi lalat buah dan kelimpahannya, di masing-masing lokasi dipasang alat perangkap yang terbuat dari botol bekas air mineral yang di dalamnya diberi bahan atraktan berupa methyl eugenol. Sebanyak lima buah trap (tiap trap diberi atraktan methyl eugenol) dipasang di bawah kanopi tanaman buah dengan tinggi 1,5 m dari permukaan tanah.  Jarak masing-masing trap sekitar 25 m. Pemasangan dilakukan selama dua jam, setelah dua jam trap diambil dan lalat buah yang tertangkap dipingsankan dengan kloroform dan kemudian dimasukkan ke dalam botol spesimen yang berisi alkohol 70 % untuk dibawa ke laboratorium Stasiun Karantina Tumbuhan Tanjung Pandan dan dikoleksi sebagai bahan identifikasi dengan menggunakan kunci identifikasi elektornik CABIKEY (White & D.L. Hancock, 1997).  Jenis-jenis tanaman buah dan sayur yang merupakan inang lalat buah yang ada di sekitar lokasi penelitian dicatat. Kelimpahan populasi masing-masing spesies ditentukan berdasarkan persentase populasi spesies-spesies tersebut di setiap lokasi penelitian.

            Sedangkan untuk mengetahui tanaman inang lalat buah atau untuk mengetahui jenis lalat buah yang menyerang buah dan sayur, dilakukan pengambilan buah-buah dan sayuran yang menunjukkan gejala terserang lalat buah dari lokasi penelitian.  Buah dan sayur yang diambil sebagai sampel adalah belimbing, jambu biji, nangka, jeruk, pisang, markisa, jambu air dan mentimun.  Buah dan sayur yang digunakan sebagai sampel diambil dengan pertimbangan bahwa pada saat penelitian buah tersebut ada di lokasi penelitian dan menunjukkan gejala serangan lalat buah yaitu busuk.  Sampel terserang tersebut kemudian dibawa ke laboratorium Stasiun Karantina Tumbuhan Tanjung Pandan untuk dipelihara hingga muncul imago lalat buah.  Pemeliharaan dilakukan dengan jalan buah-buah yang terserang dimasukkan ke dalam kotak rearing yang berupa kotak kaca dan stoples plastik yang  bagian bawahnya diberi serbuk gergaji sebagai media untuk lalat buah menjadi pupa. Setelah muncul imago di dalam kotak rearing, selanjutnya imago tersebut diambil dengan mouth aspirator dan dipingsankan dengan kloroform dan kemudian dimasukkan ke dalam botol spesimen yang berisi alkohol 70 %. Jenis lalat buah yang muncul di identifikasi dengan menggunakan kunci identifikasi elektornik CABIKEY (White & D.L. Hancock, 1997). 

            CABIKEY adalah kunci identifikasi lalat buah yang berupa file elektronik CD-room. Kunci identifikasi ini sangat mudah penggunaannya, karena deskriptor hanya  memasukkan ciri-ciri yang diminta oleh program dan program yang akan menyimpulkan nama spesies lalat buah yang sesuai dengan ciri-ciri yang dimasukkan ke dalam program.  Penciri utama yang harus dimasukkan ke dalam program adalah: asal lalat buah (dari buah atau atraktan), sex, lokasi, jenis atraktan, ciri thoraks, ciri abdomen, ciri sayap, ciri kepala dan ciri femur.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari hasil penelitian diperoleh 3 (tiga) spesies lalat buah yang terperangkap dengan  menggunakan perangkap botol bekas air mineral yang di dalamnya  diberi bahan atraktan methyl eugenol. Berdasarkan bahan atraktan yang digunakan, setiap spesies lalat buah mempunyai kecenderungan untuk tertarik terhadap satu bahan atraktan. Dikarenakan di UPT Stasiun Karantina Tumbuhan Kelas II Tanjung Pandan hanya tersedia methyl eugenol, maka 3 (tiga) spesies  lalat buah yang ditemukan tertarik dengan atraktan  methyl eugenol, sedangkan untuk atraktan yang lain belum bisa diujicobakan.   Berdasarkan lokasi, diperoleh tiga spesies yang ditemukan di semua lokasi surveilans, yaitu B. carambolae, B. umbrosus dan B.dorsalis.

B. carambola dan B. dorsalis merupakan spesies lalat buah yang populasinya melimpah hampir di semua lokasi penelitian. Hal ini disebabkan karena tanaman inang ketiga spesies ini ditemukan di semua lokasi penelitian dan yang selalu ada setiap saat, yaitu jambu biji, belimbing, pisang, dan jambu air. Menurut White dan Hancock (1997), B. carambola mempunyai beberapa jenis tanaman inang yaitu belimbing, jambu air, belimbing wuluh, sukun, cabe, jambu biji, nangka, jambu bol, mangga, rambai, sawo, aren (kolang-kaling), tomat, dan ketapang. Sedangkan B. umbrosus mempunyai tanaman inang antara lain nangka. Namun, spesies ini diperoleh dari perangkap yang dipasang pada tanaman jambu, kelapa sawit dan lada.

Spesies-spesies yang tertangkap oleh perangkap dengan bahan atraktan methyl eugenol maupun atraktan lainya seperti Cure lure belum semuanya diketahui jenis tanaman inangnya. Beberapa spesies penting telah diketahui jenis tanaman inangnya melaui identifikasi lalat buah hasil rearing dari buah terserang.  Spesies-spesies tersebut adalah B.cucurbitae, B. carambolae, B. albistrigata, B. umbrosa, B. papayae, dan B. tau. Spesies  lalat buah yang paling dominan tertangkap pada perangkap lalat buah yang diberi bahan atraktan Methyl eugenol adalah Bactocera carambola dan dorsalis. Hal ini mungkin disebabkan karena di sekitar rumah penduduk di lokasi penelitian banyak  ditanam pohon belimbing dan jambu biji yang merupakan inang bagi jenis lalat buah tersebut. Walaupun petani banyak menanam tanaman nangka namun pada saat penelitian dilakukan, tanaman tersebut tidak banyak yang berbuah dan kalaupun berbuah namun buahnya masih relatif kecil sehingga populasi lalat buah Bactocera umbrosus yang tertangkap relatif sedikit. B. carambolae termasuk ke dalam spesies B. dorsalis kompleks yang sulit dibedakan satu dengan yang lain tanpa menggunakan alat bantu mikroskop.  Sementara itu B. umbrosus mudah dikenali dari bentuk garis pita atau spot coklat atau hitam yang ada di bagian sayapnya.

Kabupaten Belitung Timur merupakan daerah yang mempunyai keragaman spesies yang sama dengan Kabupaten Belitung dimana masing-masing ditemukan 3 (tiga) spesies lalat buah. Distribusi dan keragaman spesies di suatu daerah dipengaruhi oleh faktor iklim dan ketersediaan makanan (Baker, et al. 2000; Degen et al.  1999; Yonow & Suthers. 1998; Chiu & Chu, 1991; Seo, et al., 1982; Wong, et al., 1985).  Selain itu terjadinya lalu lintas perdagangan maupun manusia dari suatu daerah ke daerah lain juga menjadi penyebab masuknya spesies ke daerah baru tersebut (Baker, et al. 2000).  Daerah Belitung Timur dan Belitung mempunyai keragaman tanaman buah dan sayur yang kemungkinan sebagai inang lalat buah lebih rendah dibandingkan dengan lokasi surveilans yang lain.  Kemungkinan tingginya keragaman spesies lalat buah di kedua lokasi tersebut disebabkan karena faktor iklim dan atau faktor lalu lintas manusia dan perdagangan yang intensif .  Belitung merupakan daerah yang dekat perbatasan  dengan negara lain (Singapura dan Malaysia) dengan lalu lintas perdagangan dan manusia dari dan keluar Pulau tersebut sangat tinggi sehingga kemungkinan terbawanya lalat buah ke daerah tersebut juga tinggi. 

KESIMPULAN

Dari hasil Surveilans dapat disimpulan bahwa;

1.       Jumlah spesies lalat buah yang tertangkap dengan menggunakan bahan atraktan Methyl eugenol ada 3 spesies.

2.       Tiga jenis lalat buah yang tertangkap merupakan spesies lalat buah yang menyerang buah dan sayur yaitu; Bactrocera carambola Drew & Hancock, B.  dorsalis, Bactrocera umbrosus Fabricius,

3.       B. carambolae, B. umbrosus dan B. dorsalis merupakan spesies lalat buah yang distribusi merata di daerah Belitung dan Belitung Timur.

4.       Kabupaten Belitung timur dan Belitung mempunyai kesamaan keragaman spesies lalat buah dikarenakan komoditas yang ada hampir sama di setiap lokasi.

DAFTAR PUSTAKA

Alyoklin, A.V., R.H. Messing and J.J. Duan. 2000. Visual and olfactory stimuli and fruit maturity affect trap captures of oriental fruit flies (Diptera: Tephritidae). J. Econ. Entomol. 93 (3): 664-649.

Baker R.H.A., C.E. Sansford, C.H. Jarvis, R.J.C. Cannon, A. Macleod, and K.F.A. Walters.  2000.  The role of climatic mapping in predicting the potential geographical distribution of non-indigenous pests under current and future climates.  Agriculture, Ecosystems and Environment.  82: 57-71.

Bateman, 1972. The Ecology of Fruit Flies. Ann. Rev. Entomol., 17: 493-519.

Butani, D.K.  1978.  Insect pest of fruit crops and their control: 25-mulberry.  Pesticides.  12: 53-59.

Chiu, H.T. and Y.I. Chu.  1991.  Male annihilation operation for the control of Oriental fruit fly in Taiwan.  Proceeding of International Symposium on The Biology and Control of Fruit Flies.  Okinawa-Japan 2-4 September.  72-78.

Christenson, L.C. and R.H. Foote. 1960. Biology of fruit flies. Ann. Rev. Entomol. 5: 171-192.

Degen, T., E. Stadler, and P.R. Ellis.  1999.  Host Plant Susceptibility to the Carrot fly, Psylla rosae: 1. Acceptability of various host species to ovipositing females.  Annals of Applied Biology.  134: 1-11.

Haramoto, F.H. and H.A. Bess. 1970. Recent studies on the abundance of the oriental and Meditereanean fruit flies and the status of their parasite. Hawai. Entomolol. Soc. 20: 551-556.

Hardy, D.E. 1973. The Fruit Flies (Tephritidae - Diptera) of Thailand and Bordering Countries. Pacific Insects Monograph, 31: 1-353 (RAE 62: 2962).

Iwashi, O.  T.S.S. Subazar and S. Sastrodihardjo. 1996. Attractiveness of Methyl eugenol to fruit fly Bactocera carambolae (Diptera: Tephtritidae) in Indonesia. Ann. Entomol. Soc. Am. 89 (5): 653-660.

Rohani, I. 1987.  Identification of larvae of common fruit fly pest species in West Malaysia.  Journal of Plant Protection in the Tropics.  4: 135-137.

Seo, S.T., G.J. Farias, and E.J. Harris.  1982.  Oriental Fruit Fly: Ripening of fruit and its effect on index of infestation of Hawaiian papayas.  Journal of Economic Entomology.  75 : 173-178.

Shiga, M.  1991.  Future prospects of eradication of fruit flies.  Proceeding of International Symposium on The Biology and Control of Fruit Flies.  Okinawa-Japan 2-4 September.  126-136.

Sutrisno, S.  1991.  Current fruit fly problems in Indonesia.  Proceeding of International Symposium on The Biology and Control of Fruit Flies.  Okinawa-Japan 2-4 September.  72-78.

Tan, K.H.  and S.L. Lee.  1982.  Species diversity and abundance of Dacus (Diptera: Tephritidae) in five ecosystems of Penang, West Malaysia.  Bulletin of Entomological Research.  72: 709-716.

Vijaysegaran, S., and M.S. Osman.  1991.  Fruit flies in Peninsular Malaysia: Their economic importance and control strategies.  Proceeding of International Symposium on The Biology and Control of Fruit Flies.  Okinawa-Japan 2-4 September.  103-113.

White, I.M. and D.L. Hancock.  1997.  Dacini of Indo Australia.  CD-Room.

White, I.M and M.M. Elson-Harris.  1994.  Fruit Flies of Economic Significance, Their Identification and Bionomics. CAB International, Wallingford, Oxon OX10 8DE, UK: 271-274.

Wong, T.T.Y., D. Mcinnis, R.M. Kobayashi, and J.I. Nishimoto.  1985.  Distribution and seasonal abundance of adult male Mediteranean fruit flies (Diptera: Tephritidae) in Kula, Mani, Hawaii.  Journal of Economic Entomology.  78: 552-557.

Yonow, T. and R.W. Sutherst.  1998.  The geographical distribution of the Queensland fruit fly, Bactrocera (Dacus) tryoni, in relation to climate.  Australian Journal of Agricultural Research.  49: 935-953.

Yunus, A. and T.H. Ho.  1980.  List of economic pests, host plant, parasites and predators in West Malaysia (1920-1978).  Bulletin, Ministry of Agriculture, Malaysia.  153: 1-538.

Kembali ke atas

putawebmaster

 

 

 

 

"Terdepan dalam Ilmu - Terbaik dalam Mutu"
Apabila ada kritik dan saran mengenai website ini silahkan hubungi: [@koe].
Last updated: 07/13/10.