Berita 1

 

 

 

BERITA

 
 

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50

RESISTENSI SERANGGA TERHADAP INSEKTISIDA

 

Jumlah spesies serangga menempati urutan pertama dari keseluruhan organisme yang telah diidentifikasi. Dominasi tersebut salah satunya disebabkan karena kemampuannya beradaptasi dengan lingkungannnya sehingga serangga dapat ditemukan hidup dalam rentang habitat yang sangat bervariasi mulai dari kutub sampai di tengah laut.  Adaptasi genetik tersebut juga muncul pada saat serangga mendapatkan tekanan seleksi dari aplikasi berbagai teknik pengendalian dalam pengelolaan hama dalam bentuk terjadinya populasi serangga yang resisten. Resistensi serangga tidak hanya terjadi terhadap insektisida kimia tetapi juga terhadap metode pengendalian lain seperti insektisida mikroba dan nabati, kultur teknis, varietas tanaman tahan serangga.

Laju perkembangan resistensi serangga sangat dipengaruhi oleh besar kecilnya tekanan seleksi yang diterima karena kegiatan pengendalian. Disamping itu, faktor genetik maupun bioekologi dari serangga juga ikut menentukan cepat lambatnya terjadinya resistensi. Salah satu contoh adalah berkembangnya biotipe baru wereng batang padi coklat, Nilaparvata lugens. Sejak hama ini menjadi salah satu hama penting di Indonesia berbagai varietas padi tahan N. lugens telah dihasilkan, tetapi penanaman varietas yang sama secara terus-menerus dalam sistem monokultur telah menyebabkan patahnya sifat ketahanan tanaman padi karena berkembangnya populasi N. lugens dengan karakter genetik dan fisiologis yang berbeda dengan sebelumnya (kemudian disebut biotipe).

Bagaimana dengan resistensi serangga terhadap insektisida? Resistensi pertama kali dilaporkan terjadi pada tahun 1908 dan jumlah kasus yang dilaporkan semakin meningkat. Peningkatkan yang tajam terjadi sejalan dengan peningkatan jumlah penggunaan insektisida pada sekitar tahun 1960-1980, dan laju peningkatannya menurun setelah itu. Di Indonesia, kasus yang telah dilaporkan tidak banyak meskipun laporan pertama kali telahdisampaikan sejak pertengahan tahun 1950an. Penyebab utama sedikitnya kasus yang telah dilaporkan adalah sedikitnya kegiatan penelitian yang terkait dengan masalah resistensi. Kerugian ekonomis yang disebabkan karena resistensi sangat besar dan kerugian tersebut tidak hanya ditanggung oleh perusahaan tetapi juga masyarakat petani baik karena peningkatan biaya maupun berkurangnya pilihan teknik pengendalian yang tersedia. Kerugian tersebut akan menjadi lebih besar kalau kita juga mempertimbangkan tidak hanya populasi secara kuantitatif tetapi juga kualitatif karena hilangnya individu-individu yang peka.

Salah satu kegiatan payung penelitian di Laboratorium kami adalah resistensi serangga. Lingkup penelitian mulai dari monitoring, mekanisme, genetika, sampai dengan manajemen resistensi. Ulat kobis Plutella xylostella dan N. lugens merupakan dua spesies serangga yang telah ditemukan resisten baik karena seleksi di lapangan maupun laboratorium. Di samping itu, empat spesies serangga penting lainnya (Helicoverpa armigera, Spodoptera exigua, Sesamia inferens, dan Chilo suppresalis) menjadi subjek penelitian dengan berbagai topik terkait dengan masalah resistensi.

Dosen, Mahasiswa, dan Teknisi Lab. Toksikologi Pestisida

 

Oleh karena itu, kami mengundang para pembaca yang tertarik dengan masalah resistensi silahkan menghubungi kami untuk dapat berdiskusi lebih banyak

by Y. Andi Trisyono July 27, 2006

Kembali ke atas

putawebmaster

 

 

 

 

"Terdepan dalam Ilmu - Terbaik dalam Mutu"
Apabila ada kritik dan saran mengenai website ini silahkan hubungi: [@koe].
Last updated: 07/13/10.