Tentang UGM
Portal Akademika UGM
IT Center
Perpustakaan UGM
LPPM
Webmail UGM
Webmail Faperta
Bahasa Indonesia
English

BUDIDAYA PADI SISTEM HAMPARAN MEMPERMUDAH PENGENDALIAN ORGANISMA PENGGANGGU TANAMAN DAN PENGATURAN PENGAIRAN SAAT MUSIM KEMARAU
Oleh : Fakultas Pertanian UGM

Written by Admin. Posted in Focus, Faculty
07
NOV
2014

 

Beras yaitu hasil pengolahan lebih lanjut bulir padi merupakan bahan makanan utama bagi sebagian besar masyarakat dunia, sehingga padi merupakan tanaman bahan pangan yang mempunyai peranan penting dalam percaturan ekonomi dunia. Padi ditanam di hampir semua ekologi dunia dari daerah yang sangat tinggi  sampai dataran rendah. Menurut kondisi lingkungannya dikenal padi dataran rendah dan dataran tinggi. Di Indonesia sebagai contoh, padi dataran rendah meliputi padi sawah beririgasi, padi sawah tadah hujan dan padi rawa. Irigasi merupakan sumber air utama saat musim kemarau dan digunakan untuk menambah air hujan saat musim penghujan, sehingga pada lahan beririgasi dapat dibudidayakan padi lebih dari  satu kali musim tanam dalam satu tahun. Masalah agronomi yang sering terjadi pada pembudidayaan padi pada lahan beririgasi meliputi (1) penurunan daya hasil karena organisma pengganggu tanaman, (2) rendahnya pengelolaan sarana produksi tanaman dan penggunaan hara yang tidak seimbang, (3) penggunaan air yang berlebihan, dan (4) kerusakan lahan karena penyalah gunaan sarana produksi tanaman.
Organisma pengganggu tanaman dan kerusakan lahan telah menjadi pembatas daya hasil di tingkat petani. Salah satu penyebab keberadaan gangguan organisma pengganggu tanaman di lahan sawah adalah sulitnya petani melakukan tanam serempak sehamparan. Ketidak serempakan penanaman menyebabkan sulitnya mengendalikan keberadaan organisme peganggu tanaman. Di sisi yang lain, usaha meningkatkan daya hasil padi melalui perbaikan teknologi budidaya mengalami banyak hambatan, karena lahan sudah rusak.  Kerusakan lahan disebabkan oleh penyalah gunaan sarana produksi tanaman khususnya pemupukan. Keberhasilan revolusi hijau dengan subsidi sarana produksi telah berakibat semakin berkurangnya petani yang menggunakan pupuk kandang  dalam usaha tani padi.

 

Adanya serangan organisma pengganggu tanaman dan penurunan tingkat kesuburan lahan, petani padi banyak mengalami kegagalan panen. Petani padi sering berseloroh, pertanian padi sawahnya sangat intensif dengan indeks pertanaman setara 5 yang artinya tanam 5 kali baru panen sekali. Pemerintah daerah telah berusaha sedemikian rupa, tetapi kegagalan tersebut tetap saja terjadi, karena petani tetap menanam padi sesuai dengan jadwalnya sendiri.
Secara kebetulan, terdapat beberapa lahan padi sawah mllik petani yang telah mengalami gagal panen dalam waktu yang lama di sekitar Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten. Daerah tersebut selanjutnya digunakan sebagai tempat demostrasi plot budidaya padi berbasis organik secara hamparan. Demplot dilaksanakan antara Juli - Oktober 2014 dengan pendampingan tim pengabdian masyarakat, Fakultas Pertanian UGM.  Untuk mendukung pengamatan berkala dilibatkan 15 mahasiswa. Pengendalian organisma pengganggu tanaman dilaksanakan saat diperlukan dengan menggunakan ambang batas ekonomi. Penanaman pertama melibatkan 45 petani pada lahan seluas kurang lebih 10 ha.  Kultivar Cidenuk yang bersifat tahan wereng ditanam dengan sistem tanam legowo 8 baris. Karena pada saat persiapan hingga tahapan vegetatif, tim pendamping merasa was-was dengan adanya ledakan hama wereng dan alhamdullilah bahwa saat ini kenyataannya padi siap dipanen, maka pendamping dan masyarakat sepakat untuk melaksanakan syukuran panen bersama dalam bentuk wiwitan. Panen dilaksanakan tanggal 29 oktober 2014 dengan hasil ubinan 9 ton gabah kering Giling/ha.
Dalam panen tersebut ikut hadir pejabat Bapedda kabupaten Klaten berserta jajarannya, kelompok tani se kecamatan Juwining, kelompok Tani “Tani Makmur” desa Trasan, kecamatan Juwiring, PT PLN (persero) P3B Jawa Bali, BATAN, tenaga pendidik dan mahasiswa Fakultas Pertanian UGM. Dalam acaara tanya jawab tersirat bahwa dengan sistem hamparan, pengendalian hama dapat dilakukan lebih kompak dan sebagai hasil akhirnya padi sehamparan menguning sehat saat akan dipanen. Kebanyakan petani menjual padinya di lahan dengan sistem tebas dengan harga berkisar antara 30 – 35 juta/ha. Semoga panen kali ini menjadi pendorong tergugahnya kembali petani padi Delanggu untuk bekerja dan bekerja mendukung kedaulatan pangan nasional.